Cegah Bau Mulut saat Puasa, Makanlah Buah

Cegah Bau Mulut saat Puasa, Makanlah Buah

BAU mulut saat puasa masih menjadi permasalahan yang paling umum. Bau tersebut bisa dicegah dengan berbagai cara, seperti mengonsumsi buah.

Menurut Dr dr Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, Sp.GK, buah seperti kiwi memiliki serat tinggi. Inilah yang menyebabkannya efektif mencegah bau mulut.

"Buah umumnya bisa mencegah bau mulut saat puasa karena cairan yang dihasilkan banyak, sehingga mulut lebih segar," katanya, kepada Okezone di Jakarta, belum lama ini.

Meski begitu, dr Fiastuti menambahkan bahwa bau mulut ditentukan oleh kebersihannya. Karena itu, selain konsumsi buah, mulut juga tetap harus dijaga kebersihannya untuk mencegah bau tidak sedap.

"Tapi, sebenarnya bau mulut ini lebih kepada kebersihan. Jadi, harus tetap bersih," tutupnya. (fik)


View the original article here

Cegah Tubuh Anak Pendek, Cek Kehamilan Secara Teratur

Cegah Tubuh Anak Pendek, Cek Kehamilan Secara Teratur

ANAK dengan kondisi stunting atau tinggi badan tidak memenuhi standar (pendek) biasanya disebabkan karena sang ibu mengalami kekurangan gizi dan zat besi saat hamil. Untuk itu, penting melakukan pemeriksaan secara teratur selama masa kehamilan.
Direktur Bina Gizi dari Kementerian Kesehatan RI, Ir. Doddy Izwardi, MA, mengatakan bahwa ibu hamil bisa memeriksakan diri, baik melalui bidan ataupun dokter. Dengan demikian, ibu hamil yang berisiko melahirkan anak stunting bisa terdeteksi lebih dini. Deteksi tersebut juga bertujuan
memberi penanganan lebih lanjut, seperti pemberian suplemen dan obat. (Baca: Kerajaan Belanda Bantu Masalah Kurang Gizi di Indonesia)
"Saat hamil itu, wanita butuh perawatan kehamilan, jadi kunjungi bidan untuk mengecek kondisi kesehatan Anda bayi Anda," katanya pada konferensi pers “Program Peningkatan Gizi Ibu, Bayi dan Anak, Dalam Rangka Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Jawa Timur” di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/7/2014). (Baca: Menu Terbaik jika Ibu Hamil Berpuasa)
Pemeriksaan tersebut, imbuh Doddy,  karena hamil menjadi fase penentu untuk kesehatan ibu dan bayi. Kondisi kesehatan ibu yang memburuk juga akan berpengaruh pada anak.
"Yang harus diketahui, hamil itu masa kritis untuk ibu dan anak. Sehinga saat ibu kesulitan makan, maka akan berpengaruh pada anaknya. Dan jika kondisi fisik ibu yang tidak memungkinkan, itu akhirnya akan membuat anak lahir dengan kondis stunting," tutupnya.
(fik)

View the original article here

Cegah AIDS, BKKBN 'Berburu' Aktivis GenRe

Cegah AIDS, BKKBN 'Berburu' Aktivis GenRe

PENDIDIKAN kesehatan reproduksi sangat penting disampaikan kepada generasi muda untuk mencegah beberapa masalah, termasuk kematian usia dini. Salah satu strategi yang disusun adalah melalui program Generasi Berencana (GenRe).
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Prof Dr Fasli Jalal, Ph.D, Sp.GK, mengatakan bahwa program GenRe menyampaikan informasi-informasi penting, termasuk kesehatan reproduksi, pada laki-laki dan perempuan. (Baca: Kesehatan Reproduksi Penting Diberikan Sejak Dini)
Lebih lanjut, Fasli menjelaskan bahwa sasaran program GenRe adalah mahasiswa dan siswa SMU. Fasli mengatakan bahwa BKKBN ingin menjangkau kurang lebih 9 juta siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan setingkatnya, serta 6,2 juta mahasiswa/mahasiswi di 3.200 kampus negeri dan swasta. (Baca: Menu Terbaik jika Ibu Hamil Berpuasa)
"Oleh karena itu, kita mencari sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang bersedia mengembangkan program GenRe melalui pusat-pusat informasi dan konseling," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (14/7/2014).
Kemudian, Fasli menjelaskan bila dalam pusat informasi tersebut para aktivis GenRe akan diberikan modal berupa edukasi. Tujuannya agar para aktivis GenRe paham kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, pencegahan HIV/AIDS, dan mengerti pematangan usia perkawinan. (Baca: Si Merah Mungil Dongkrak Gairah Seks)
"Selanjutnya mereka (aktivis GenRe yang sudah dilatih-red) akan memeroleh sertifikat dan menyampaikan kepada teman-teman sebayanya dengan lebih mudah. Hal ini karena remaja lebih mudah mendengar dari teman-teman sebayanya, termasuk aktivis GenRe," tutupnya.
(fik)

View the original article here

Cegah Parkinson dengan Kayu Manis

Cegah Parkinson dengan Kayu Manis

PARKINSON merupakan penyakit yang disebabkan kerusakan sel-sel otak, dan bisa dialami oleh semua usia dan jenis kelamin. Meski begitu, ada cara sederhana untuk mengurangi risikonya.

Sebuah studi baru menemukan bahwa kayu manis bisa menjadi senjata dalam melawan penyakit parkison. Para ilmuwan telah menemukan bahwa rempah-rempah adalah sumber bahan kimia alami yang dapat melindungi otak.

Pemimpin penelitian, Profesor Kalipada Pahan, mengatakan bahwa liver manusia mengubah kayu manis menjadi seperti bahan kimia natrium benzoat. Natrium benzoat adalah sebuah obat yang disetujui dalam pengobatan untuk gangguan saraf. (Baca: Kolang-Kaling Belum Pasti Cegah Cedera Lutut)

“Bahan kimia dari kayu manis tersebut memasuki otak, kemudian menghentikan hilangnya protein yang membantu melindungi sel-sel otak, melindungi neuron dan meningkatkan fungsi motorik,” katanya seperti dikutip Dailymail, Senin (14/7/2014).

Meski baru sebatas uji coba laboratorium pada tikus percobaan, penelitian ini dinilai berpotensi menjadi salah satu pendekatan paling aman, guna menghentikan perkembangan penyakit pada pasien parkinson.

“Tes telah menunjukkan bahwa kayu manis lebih baik dalam menghentikan parkinson karena lebih murni. Meski baru penelitian terhadap tikus, tetapi ini memiliki potensi, sehingga langkah berikutnya adalah pengujian kayu manis pada pasien dengan penyakit parkinson,” jelasnya,

Sementara itu, bubuk kayu manis yang sudah dimakan kemudian berubah menjadi natrium benzoat oleh hati. Natrium benzoat tersebut masuk ke otak, lalu menghentikan hilangnya parkin dan DJ-1, melindungi neuron, tingkat neurotransmitter akan normal, serta meningkatkan fungsi motorik akibat penyakit parkinson. (fik)


View the original article here

Kolang-Kaling Belum Pasti Cegah Cedera Lutut

Kolang-Kaling Belum Pasti Cegah Cedera Lutut

BAGI penyuka olahraga lari, glukosamin dan kolang-kaling bukanlah hal yang asing. Pasalnya, dua asupan tersebut diyakini bisa melindung lutut dari cedera.  
Dr L. Andre Pontoh, SpOT (K), spesialis bedah orthopedi RS Pondok Indah, mengatakan bahwa glukosamin dan kolang kaling kadang dijadikan nutrisi bagi penyuka lari demi melindungi lutut mereka. Sayangnya, belum ada bukti klinis yang menyatakan manfaat tersebut sejauh ini. (Baca: Penanganan Tepat Cedera Lutut)

"Bahwa memang glukosamin dan kolang kaling punya kemampuan pencegahan anti radang, tapi belum ada riset yang mengatakan bisa melindungi itu. Jadi, saya tidak bisa memberi anjuran," katanya di Jakarta, baru-baru ini. (Baca: Hati-hati, Pakai High Heels Bikin Cedera Lutut)
Menurut dia, cedera lutut banyak terjadi karena kecelakaan, seperti saat olahraga. Selain itu, meski sudah mengonsumsi nutrisi yang cukup, bukan berarti menghilangkan risiko cedera lutut. (Baca: Lutut Cedera Usai Berlari, Bolehkah Dipijat?)
"Kita memang sebelum berolahraga diharuskan mencukupi asupan protein, karbohidrat untuk sumber energi dan pembentukan otot, serta kalsium untuk kesehatan tulang. Tapi, semua itu belum tentu membuat penyuka olahraga itu bebas dari cedera lutut," tutupnya.
(ftr)

View the original article here